Berkemah di Pulau Perak

Pulau Perak, merupakan salah satu pulau kecil di kepulauan Seribu, Jakarta. Untuk mencapai Pulau Perak ini, lebih baik menumpang perahu kayu ke arah Pulau Harapan kemudian baru dilanjutkan menggunakan perahu kecil ke Pulau Perak dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam (syarat dan ketentuan tergantung kecepatan perahu kecil yang digunakan). Di pulau ini ada 2 kios kecil yang buka sampai malam dan 1 sumur yang bisa dipakai untuk ambil air tawar. Demikian sekilat info tentang Pulau Perak. Simak ceritaku berikutnya untuk deskripsi lebih detil tentang Pulau Perak…

 

Ajakan camping itu datang

Hari itu Selasa, 8 Oktober 2013 tiba-tiba ada ajakan camping dari temen kuliahku, Astri. Rencananya mau ke Pulau Perak dengan sistem share cost bareng anak-anak kaskus di akhir pekan tanggal 12-13 Oktober 2013. Awalnya ragu-ragu ikut camping berhubung sudah 9 tahun ga pernah camping lagi dan akhir-akhir ini lebih sering travelling manis manja, sehingga tawaran itu masih digantungin dulu. Kemudian muncullah pesan dari rumah, orang tua nyuruh pulang karena ada libur panjang tanggal 12-15 Oktober. Lah ternyata libur panjang toh, langsung aja coba cari tiket untuk pulang kampung. Ada sih tiket pulang, tapi tiket baliknya yang habis. Kecewa karena ga jadi pulang, tanpa pikir panjang aku setujuin aja ajakan untuk camping. Dalam pikiranku, libur panjang tanpa acara seperti langit tanpa bintang. Hampaaa. Lagipula kalau pun tepar karena kecapekan pas camping masih ada waktu untuk recovery.

Dengan bersemangat, aku tanya-tanya ke temenku berapa orang yang mau ikut, apa aja yang perlu aku persiapkan, dan bagaimana nanti teknis keberangkatannya. Rencana awal yang akan ikut ada 21 orang, namun mendekati hari H pada berguguran dan tersisa 16 orang saja termasuk aku. Dan aku ga perlu bawa peralatan tempur karena sudah ada seksi Logistik dan Peralatan yang siap buat bawain semua alat camping nya. Wuah nice banget nih orang (terima kasih bang Ari~teu dan bang Egi). Temen yang lain cukup bawa peralatan pribadi aja. Ntar ketemu di Muara Angke baru bantuin bawa-bawa barangnya (no problem Open-mouthed smile )

Day 1 – Keberangkatan dari Muara Angke

Kapal Kayu dari Muara Angke ke Pulau Harapan dijadwalkan berangkat pukul 07.30, karena itu kami harus sudah berkumpul sebelumnya. Aku berangkat pukul 04.30 naik taksi. Aku memilih berangkat pagi karena pengalaman sebelumnya jalan ke Muara Angke macet parah akibat perbaikan jalan. Pukul 05.00, aku sudah sampai di Pom Bensin Muara Angke, nungguin Astri sholat sambil ngambil duit buat jaga-jaga di perjalanan.

Pukul 05.30 belum ada anggota rombonganku yang datang selain aku dan Astri. Jadi lah kami berdua berangkat duluan ke dermaga mencari kapal untuk ke Pulau Harapan. Menurut informasi dari mbak Dita sebagai seksi Transportasi dan Perijinan, kami harus cari kapal kayu dengan nama Dolphin. Setelah berputar-putar di dermaga dan beberapa kali salah naik kapal, ternyata kapal Dolphin ini letaknya bukan di barisan depan, tapi di barisan belakang kapal yang terletak di belakang pom bensin.

Di kapal Dolphin ini ketemu sama Hardi, temenku dari komunitas yang lain. Dia mau ke Pulau Semak Daun bareng temen-temennya. Karena itu mereka akan turun di Pulau Pramuka untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Semak Daun menggunakan kapal kecil.

Setelah lama menanti, akhirnya rombonganku mulai berdatangan satu persatu. Rifai dan Ana, Bang Ari, Chibe, dan Hel, bang Egy dan Aan, Danu dan Rian secara berurutan naik ke kapal dan saling kenalan. Dan ada juga bang Cholid dan Arni (? sori kalo salah nama ?) yang ternyata sudah ada di bagian atas kapal sejak awal. Ga berapa lama kapal pun berangkat.

Lah, dari 16 orang baru ada 13 orang yang sudah di kapal. Malah mbak Dita sie transportasi yang belum dateng. Setelah dikabari kalau kapalnya sudah berangkat, akhirnya mba Dita cari kapal alternatif lain untuk ke Pulau Harapan. Dan syukur lah ada kapal lain yang juga berangkat di hari itu yakni Kapal Miles (aslinya kapal ini sempat aku naikin tadinya tapi karna disuruh pindah ke Dolphin sama rombonganku ya akhirnya aku pindah kapal)

Day 1 – Tiba di Pulau Harapan

Perjalanan Muara Angke – Pulau Harapan ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam dengan sebelumnya kapal sempat mampir dulu ke Pulau Pramuka untuk menurukan sebagian penumpang. Perjalanan itu ga begitu kerasa karena cuaca saat itu cukup cerah dan laut sangat bersahabat. Jadinya aku bisa tidur pulas sepanjang perjalanan.

Sampai di Pulau Harapan sekitar jam setengah 11. Sambil mencari mbak Dita yang tadi kepisah kapal, kami pun mencari warung untuk sarapan. Akhirnya kami memilih nongkrong di taman deket dermaga yang memiliki pujasera . Walau pujasera, pilihan makanan yang ada di sini ga gitu banyak. Rata-rata cuma jualan indomie dan minuman dingin. Karena sudah tidak tahan dengan lapar, aku langsung pesan indomie sedangkan temen-temenku keliling untuk cari nasi. Tidak berapa lama, mbak Dita pun ikut bergabung dengan kami bersama 2 temennya, Irfan dan Risa. Mereka pun akhirnya menemukan warung yang jualan nasi ayam dan nasi soto dan kita pun makan bersama

Setelah makan, kami sholat dulu di mesjid di Pulau Harapan baru kemudian naik ke kapal untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Perak.

Day 1 – Tiba di Pulau Perak

Saat kami tiba di Pulau Perak, hanya ada beberapa orang yang bermain di pinggir pantai. Sebagian yang lain nongkrong di warung yang terletak persis di depan dermaga. Kami pun segera menurunkan barang-barang dan membangun tenda. Kami memilih membangun tenda tepat di depan dermaga untuk mempermudah akses ke dermaga dan ke warung.

Setelah ketiga tenda tegak berdiri, kami segera berganti pakaian dan kembali ke kapal untuk berkeliling dan snorkeling.

Day 1 – Snorkeling and Photo Hunting Time

Aku tidak ingat nama-nama pulau yang kami kunjungi untuk bersnorkeling. Yang pasti ada banyak terumbu karang di sini. Namun tidak berwarna-warni seperti yang pernah aku temukan di Karimun Jawa. Kami bersnorkeling di tiga spot yang berbeda. Dan syukurlah cuaca maupun arus laut cukup bersahabat sehingga kami tidak terlalu bersusah payah dalam bersnorkeling.

Setelah puas snorkeling (walau beberapa orang masih nagih karena baru pertama kali ngerasain snorkeling dan nyelam sambil di foto), kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Gosong untuk berfoto.

Pulau Gosong adalah pulau kecil yang isinya cuma pasir aja. Bentuknya memanjang dan sebagian area akan tertutup air ketika laut pasang. Pulau ini cukup indah dan saat kami ke sana ada yang sedang photo prewed disini.

Night 1 – The Darkness Rise

Setelah langit mulai gelap, kami kembali ke Pulau Perak. Ternyata Pulau Perak ini tidak terlalu jauh dari Pulau Gosong. Begitu tiba di Pulau Perak, kami berbagi tugas. Yang cewe mandi di sumur yang terletak di bagian tengah pulau. Cukup susuri jalan setapak pasti ketemu sumurnya. Sedangkan yang cowo mempersiapkan peralatan masak dan barang-barang lainnya. Setelah peralatan siap, the master koki kita, bang Ary mulai menunjukkan kebolehannya. Masakan pertama yang muncul adalah pasta dan sosis. Kemudian dilanjutkan dengan indomie. Karena semua bilang masih kurang, dikeluarkan lah Spaghetti. Ternyata karena masak Spaghetti ini memang butuh waktu yang cukup lama, hilang sudah nafsu kami. Makan kami cuma sedikit dan banyak spaghetti yang masih tersisa. Setelah kenyang makan, temen-temen lanjut mengobrol sedangkan aku memilih cari tempat untuk berbaring meluruskan badan sambil memandangi bintang-bintang.

Sempat terlelap sebentar di pinggir pantai, aku masuk ke tenda untuk benar-benar tidur. Mata terpejam cuma 2 jam, aku keluar ke dermaga untuk join ngobrol bareng temen-temen yang sekarang tinggal tersisa 6 orang. Ga seberapa lama nongkrong di dermaga, temen-temen akhirnya memilih kembali ke tenda untuk tidur. Dan aku pun ikut tidur lagi Smile with tongue out

Lagi-lagi cuma sempat tidur 2 jam, aku kebangun lagi gara-gara ada yang bangunin bang Cholid yang tidur persis di sebelahku. Akhirnya aku ikut keluar bareng bang Cholid. Liat jam udah jam 3 pagi. Alamat ga bisa tidur lagi nih. Mana perut tiba-tiba berkontraksi. Akhirnya cari-cari botol dan dan bikin galian di pinggir pantai untuk tuntaskan hasrat ini. Ga berapa lama ternyata bang Cholid nyamperin untuk pinjem botol dengan tujuan yang serupa tapi lokasi berbeda Open-mouthed smile.

Setelah perut sudah tidak berontak, aku memilih tidur-tiduran lagi di pinggir pantai. Ternyata malah ketiduran dan bangun-bangun hari sudah mulai terang. Langsung saja lari ke sumur untuk wudhu dan menunaikan sholat subuh.

Day 2 – Badai Pasti Berlalu

Di hari kedua ini ga gitu banyak rencana yang akan kami lakukan. Kami cuma berniat menghabiskan waktu di pulau dengan foto-foto dan keliling-keliling pulau. Sebagian dari kami pun sudah tidak ada yang begitu berminat untuk sarapan karena masih kenyang atau pun khawatir perutnya bakalan bermasalah sebelum bisa menemukan WC yang layak.

Namun tidak disangka tiba-tiba angin berhembus kencang, air laut mulai berombak cukup tinggi. Kami segera bergotong royong memindahkan tenda karena bentuk tenda mulai ga karuan terkena angin kencang. Tenda pun kami pindahkan ke belakang warung dengan harapan anginnya sudah terblok oleh warung. Dua tenda kami pindahkan dan kami sisakan tenda paling kecil di tempat semula karena dengan ukurannya yang cukup kecil, dia akan tahan dengan hembusan angin. Selagi sibuk memindahkan tenda, kami lihat bapak-bapak pemilik warung dengan santainya menyapu. Ternyata menurut bapak itu, angin segitu ga serem dan udah biasa.

Setelah tenda dipindahkan, sebagian ada yang kembali beraktivitas seperti biasa dan ada juga yang meringkuk di dalam tenda menghindari angin dan gerimis yang mulai turun (termasuk aku sendiri). Tidak berapa lama, angin kencang pun berhenti dan aku pun ikut keluar beraktifitas dengan bersama temen-temen.

Aku dan sebagian temenku memilih untuk berkeliling pulau. Di tengah pulau, kami lihat ada makam. Kemudian jika kami ke sisi selatan pulau, hanya ada pantai pasir yang pendek dan banyak pohon yang sudah tumbang di pinggirannya. Di sebelah timur dan memanjang ke utara ada pantai pasir yang lumayan luas dan tampaknya bisa digunakan juga sebagai camp ground. Setelah satu kali memutari pulau, kami pun berkumpul kembali dengan teman-teman yang stand by di tenda. Kita mulai sesi foto bareng rame-rame.

Day 2 – Adios Amigos

Setelah puas berfoto ria, kami pun berkemas dan membereskan tenda beserta perlengkapan yang lain. Sekitar jam 10, kami meninggalkan Pulau Perak untuk menuju Pulau Harapan.

Di tengah perjalanan kami sempat mampir ke Pulau Bulat. Pulau ini memang berbentuk lingkaran dengan tembok yang dibangun di sekeliling pulau dalam bentuk lingkaran juga. Konon pulau ini milik anak alm. mantan Presiden Soeharto yang sekarang sudah jarang didatangi lagi. Masih tersisa bangunan yang cukup megah walau kurang terawar di pulau ini. Pulau ini ternyata juga memiliki pantai yang cukup luas dan boleh dijadikan tempat berkemah. Di bagian tengah pulau juga ada sumur yang bisa digunakan untuk mengambil air tawar. Setelah berkeliling dan bertanya-tanya tentang perijinan mendirikan tenda di pulau ini, kami pun meninggalkan pulau untuk menuju Pulau Harapan.

Sesampainya di Pulau Harapan, ternyata kapal Dolphin yang akan kami tumpangi sudah mulai dipenuhin penumpang. Untung masih ada sedikit space di dek atas yang bisa digunakan untuk menyimpan tas. Kemudian kami para cowo berpindah ke sisi samping kapal untuk duduk-duduk sedangkan yang cewe tetap di dalem kapal. Kapal pun berangkat jam sekitar jam 12.

Kali ini cuaca tidak begitu bersahabat. Langit mendung sepanjang jalan. Dan ombak pun cukup tinggi. Cukup sering terdengar teriakan dari penumpang di kapal. Namun untung perjalanan cukup lancar dan kami pun tiba di dermaga Muara Angke sekitar pukul 3 sore. Setelah berjalan bersama ke gerbang Muara Angke, aku pun berpisah dengan teman-temanku dan melanjutkan perjalanan pulang ke kosan dengan menumpang angkot 01 hingga Grogol kemudian ganti naik taksi.

Pengeluaran Perjalanan

Total pengeluaran untuk perjalananku kali ini kurang lebih 215 ribu di luar jajan pribadi. Dengan rincian yang sebagian aku ambil dari perhitungannya bang Ary dan dengan tambahan pengeluaran pribadi sebagai berikut :

  • Taksi (berangkat) kosan – Muara Angke = 100 ribu / 2 orang = 50 ribu
  • Tol dalam kota = 7 ribu
  • Biaya masuk Angke = 2 ribu untuk 1 taksi
  • Kapal Muara Angke – P. Harapan PP = 80 ribu
  • Indomie dan Es Nutrisari di P. Harapan = 12 ribu
  • Kapal untuk keliling dan ke P. Perak = 900 ribu / 16 orang = 60 ribu
  • Alat Snorkeling = 20 ribu
  • Alat camping = 250 ribu / 16 orang = 15 ribu
  • Logistik = 20 ribu
  • Retribusi pulau = 200 ribu / 16 orang = 15 ribu
  • Angkot 01 Muara Angke – Grogol = 5 ribu
  • Taksi Grogol – Kosan = 70 ribu / 2 orang = 35 ribu

Penutup

Lumayan juga kegiatan camping kali ini. Walau sempat mengalami kendala seperti kekurangan peralatan snorkeling (sepatu kataknya lupa dibawa sama bapak kapal nya), perut mules di area tanpa WC, dan serangan cuaca buruk di pagi hari namun overall aku cukup bahagia dengan sejenak lepas dari zona kenyamanan dan kemapanan. Jika ada kesempatan, boleh lah aku camping lagi di tempat lain Open-mouthed smile

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s