One Day Trip menuju Pulau Untung Jawa

Perjalanan ke Untung Jawa ini dimulai ketika ada ajakan teman masa kuliah dulu untuk main ke pantai. Karena waktu dan dana yang terbatas maka dipilihlah salah satu pulau dari Kepulauan Seribu yang paling dekat dan paling gampang dicapai dari Jakarta yakni Pulau Untung Jawa. Setelah melakukan riset berbagai literatur, diketahui bahwa pulau Untung Jawa ini bisa dicapai dari dermaga Tanjung Pasir yang berada di daerah Tangerang. Setelah rencana perjalanan dan persiapan sudah matang, berangkatlah kami berdua ke Pulau Untung Jawa tersebut.

 Keberangkatan

Perjalananan dimulai dengan meeting point di halte busway Harmoni karena kami berencana menuju Tangerang melalui terminal Kalideres. Janjian awal sebelumnya ingin berangkat pagi agar bisa sampai di Pulau Untung Jawa sebelum jam 7. Tapi akhirnya molor gara – gara temenku telat bangun dan baru sampai di Harmoni jam setengah 7.
Setelah bertemu di Halte Harmoni, kami segera naik busway jurusan Kalideres. Lumayan juga kalau naik busway pagi – pagi masih sepi jadi sepanjang jalan masih dapat tempat duduk.
Sesampainya di Kalideres, kami segera mencari angkutan berikutnya yakni angkot Putih Hijau jurusan Kalideres – Kota Bumi. Angkot ini suka ngetem di seberang terminal Kalideres. Tapi kalo masih sepi, dia suka ngetem di sembarang tempat. Perjalanan jadi terasa lama gara – gara dia berhenti terus – terusan. Nyetirnya juga ga karuan jadi makin stres aja di dalem angkot. Kami  naik angkot ini dengan tujuan Pintu Air. Pintu Air ini semacam sungai besar yang ada pintu airnya (*obviously*) . Disini banyak angkutan berbagai jurusan yang ngetem juga, tapi yang kami cari disini adalah Elf biru, karena Elf biru ini yang akan mengangkut kami ke tujuan berikutnya.
Sampai di Pintu Air, kami segera naik ke Elf biru yang kami lihat pertama kali. Lagi lagi angkutan ini ngetem lama karena penumpangnya belum penuh. Begitu penumpang mulai terisi hampir separuh, elf ini mulai jalan. Pertama – tama melewati jalan satu arah yang lumayan panjang, kemudian tiba – tiba berada di samping bandara Cengkareng, dan mulai masuk ke daerah Teluk Naga. Di daerah Teluk Naga ini banyak orang yang mencuci pakaian, peralatan makan, bahkan mencuci badan di sungai yang airnya jauh dari kata bersih. Saya yang melihatnya aja udah merasa gatal – gatal.
Tapi pemberhentian kami bukanlah Teluk Naga, melainkan terminal Kampung Melayu (bukan terminal Kampung Melayu yang di Jakarta ya). Sesampainya di Kampung Melayu, kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot putih jurusan Kampung Melayu – Tanjung Pasir. Angkot putih disini ada 2 jurusan, pastikan untuk bertanya dahulu sebelum naik. Perjalanan menggunakan angkot putih ini melewati sawah – sawah yang hijau dan tambak – tambak ikan yang berair.
Selama di perjalanan kami diberitahukan oleh pak supir angkot bahwa angkot paling malam dari Tanjung Pasir hanya ada hingga pukul 6 sore sehingga kami disarankan untuk kembali ke dermaga Tanjung Pasir setidaknya pukul 5 sore. Selain itu, kami juga diberitahu bahwa perahu yang akan berangkat ke Untung Jawa pukul 9 sudah berangkat (kami tiba di sana sekitar pukul 9 lewat sedikit) dan baru ada lagi pukul 11.
Ternyata sesampainya di Tanjung Pasir masih banyak perahu yang belum berangkat. Tampaknya perahu – perahu ini juga punya kebiasaan ngetem kalo penumpang belum penuh. Namun pukul setengah 10, perahu – perahu yang belum berangkat segera diminta berangkat karena toleransi keberangkatan mereka sepertinya maksimal 30 menit. Perjalanan menggunakan perahu menuju pulau Untung Jawa sendiri memakan waktu sekitar 30 menit. Syukurlah cuaca cerah dan ombak relatif tenang sehingga perjalanan kami cukup lancar. Kami pun tiba di pulau Untung Jawa sekitar pukul 10.

Di Pulau Untung Jawa

Sampai di pulau Untung Jawa, kami segera menuju bagian kiri pulau. Bagian kiri ini berisi hutan bakau dan pantai kerikil. Selain itu, lokasi rumah makan masakan laut juga berada di bagian kiri pulau tersebut. Kami bergegas menuju bagian kiri pulau karena kami melihat ada pulau Rambut yang memang destinasi kami selanjutnya di sisi kiri pulau dan kami berharap menemukan perahu yang bisa membawa kami kesana. Ternyata di bagian kiri pulau susah sekali menemukan perahu dan setelah bertanya – tanya ke beberapa orang yang ada di sana, perjalanan ke Pulau Rambut biasanya dibundling dengan paket snorkeling. Akhirnya kami mengurungkan niat karena memang tidak berniat main air sehingga tidak membawa pakaian renang. Akhirnya kami hanya berjalan – jalan di pantai yang kurang begitu menarik dan juga di dalam hutan bakau.

Setelah puas berjalan – jalan di hutan bakau, kami menuju bagian kanan pulau untuk melihat pantai yang lain. Dari ujung kiri pulau ke ujung kanan pulau hanya dibutuhkan waktu tempuh sekitar 1 jam berjalan kaki. Pantai di bagian kanan pulau ini berbeda dengan pantai di bagian kiri pulau. Pasir di pantai ini relatif bersih dan halus. Perbandingan pantai bisa dilihat dari gambar di bawah.

Di tiap pinggir pantai pulau ini selalu ada warung – warung yang berjualan makanan dan menawarkan tempat berteduh jadi jangan kuatir kelaparan dan kepanasan. Kami pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat di pinggir pantai setelah capek berjalan – jalan. Lokasi kami beristirahat tampaknya punya nama sedikit kebelanda – belanda sesuai dengan papan nama yang tertulis di depan, yakni Amiterdam.
Di sini kami istirahat menikmat angin pantai sambil makan gado – gado. Gado – gadonya ternyata ga begitu mahal dan masih terhitung harga normal kalau menurut saya.
Setelah puas memandangi pantai, kami beranjak menuju masjid terdekat untuk menunaikan sholat dhuhur. Masjidnya lumayan bagus dan terawat dengan langit – langit yang cukup tinggi sehingga cukup sejuk walau tidak ada AC yang dinyalakan. Hanya saja air disini berasa payau sehingga agak aneh saat digunakan untuk wudhu. Dan menurut teman saya, kamar mandi wanita disini memiliki pintu yang berlubang sehingga orang dari luar bisa melihat ke dalam. Setelah selesai melaksanakan kewajiban sholat, kami kembali ke dermaga Untung Jawa untuk naik perahu kembali ke Tanjung Pasir. Pada saat berangkat, kami ditawarkan untuk dijemput pukul  3 atau pukul 5. Karena memang frekuensi penjemputan di sana setiap 2 jam. Kami akhirnya memilih penjemputan pukul 3 karena memang sudah tidak ada acara lagi di pulau tersebut setelah rencana kami untuk berkeliling ke pulau – pulau lain di sekitarnya batal. Tampaknya kami harus datang dengan rombongan yang lebih banyak agar bargain power kami lebih besar untuk dapat menyewa sebuah kapal yang dapat mengantarkan kami berkeliling.

 Kepulangan

Pukul 3 sore kami sudah sampai kembali di Tanjung Pasir setelah menempuh perjalanan laut 30 menit yang untungnya lagi – lagi cuaca dan ombak cukup bersahabat. Kami segera naik angkot putih yang membawa kami kembali ke terminal Kampung Melayu. Angkot putih ini cukup menyenangkan karena tidak terlalu banyak ngetem.
Setelah sampai di Kampung Melayu, kami lanjut naik elf untuk menuju ke Pintu Air. Lagi – lagi tidak perlu terlalu lama ngetem karena penumpangnya sudah cukup banyak sehingga elf langsung jalan. Namun perjalanan mulai terhambat macet terutama karena ada kendaraan yang masuk ke bandara Cengkareng.
Kami turun dari elf di perempatan lampu merah Pintu Air. Kami bergegas mencari angkot Putih Hijau yang membawa kami ke terminal Kalideres. Syukurlah angkot ini lagi – lagi tidak ngetem lama karena angkot langsung penuh. Dan jika dipikir kembali, perjalanan kami dari Pintu Air menuju Kalideres seharusnya ditempuh dalam waktu yang cepat dan jarak yang tidak terlalu jauh jika angkot tidak banyak ngetem seperti saat berangkat.
Pukul setengah 5 kami sudah tiba di Kalideres. Setelah sholat Ashar di mushola terminal, kami segera naik busway menuju Harmoni. Sampai di Harmoni, kami berpisah menuju kosan masing – masing.

Biaya – biaya

Keberangkatan :

Tiket Busway (sampai Kalideres)
Rp 2000,-
Ongkos “Angkot Putih Hijau” Kalideres – Kotabumi (sampai Pintu Air)
Rp 3000,-
Ongkos “Elf Biru” Pintu Air – Kampung Melayu (sampai Kampung Melayu)
Rp 4000,-
Ongkos “Angkot Putih” Kampung Melayu – Tanjung Pasir (sampai Tanjung Pasir)
Rp 4500,-
Biaya masuk Tanjung Pasir
Rp 2500,-
Ongkos perahu penyebrangan ke Untung Jawa
Bayar saat pulang

Di pulau :

Gado – gado pakai lontong
Rp 8000,-
Pop Mie
Rp 5000,-

Kepulangan :

Ongkos perahu penyebrangan ke Tanjung Pasir
Rp 25000,- (harusnya Rp 20000,- tapi ga dikasih kembali dan lupa minta sesampainya di Tanjung Pasir)
Ongkos “Angkot Putih” Kampung Melayu – Tanjung Pasir (sampai Kampung Melayu)
Rp 5000,-
Ongkos “Elf Biru” Pintu Air – Kampung Melayu (sampai Pintu Air)
Rp 5000,-
Ongkos “Angkot Putih Hijau” Kalideres – Kotabumi (sampai Kalideres)
Rp 3000,-
Tiket busway
Rp 3500,-
Total biaya trip kali ini : Rp 70.500,-
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s