Naik Ekonomi… Mau Ngirit Malah Ngorot

29 07 2008

Perjalanan Bandung – Kediri (Kereta Ekonomi)

Cerita ini berawal saat ibuku menelfonku di Rabu pagi. Ibuku tiba-tiba menyuruhku untuk pulang. Kata beliau, bakalan ada temu keluarga antara keluargaku dengan keluarga pacar kakakku. Jadi aku disuruh pulang. Kebetulan aku juga ada perlu di kampung halaman jadi langsung aku iyakan. Begitu aku tanya kapan acaranya dilangsungkan, ternyata Jumat malem ato 2 hari lagi. Wuah, mendadak banget. Langsung deh aku buru-buru cari tiket karena perjalanan dari Bandung ke Malang minimal 1 malam.

Siang harinya aku berangkat cari tiket. Kebetulan saat itu akhir musim liburan jadi tiket-tiket pada habis. Akhirnya aku pilih beli tiket yang selalu tersedia yaitu kereta ekonomi. Begitu liat harganya, lumayan murah juga pikirku. Aku pilih kereta Kahuripan yang jurusan Bandung – Kediri karena perkiraan kedatangan di Kediri pukul 11 siang daripada kereta Pasundan yang arah Surabaya yang kemungkinan datang di Surabaya pukul 11 malem.

Balik dari beli tiket, aku tanya – tanya ke temanku yang kira – kira pernah naik kereta itu karena sejujurnya aku ga tau bakalan turun dimana. Tapi bukan jawaban dari pertanyaanku yang kudapat melainkan saran dari temenku untuk lebih baik tidak memilih kereta tersebut karena dia pernah kecurian hape sampe 2 kali. Dengan kerugian sektar 2 juta rupiah. Tapi karena sudah terlanjur beli tiket ya aku tetep berangkat aja.

Malam harinya aku diantarkan oleh salah seorang temanku ke Stasiun Kiara Condong, Bandung. Dari luar, stasiun keliatannya sepi sepi saja. Aku sudah berpikir bahwa kereta ini bakalan kosong nih. Enak bisa dapet tempat duduk. Begitu masuk ke dalam stasiun, aku merevisi ulang pikiranku. Ternyata di dalam stasiun rame banget. Sepertinya pasar Kircon kalo malem pindah ke dalam stasiun nih, pikirku.

Begitu kereta datang sekitar jam setengah sembilan malam, para penumpang berebut masuk ke dalam kereta. Mereka mengharapkan untuk mendapatkan tempat duduk agar bisa nyaman selama di perjalanan. Namun harapan tinggal harapan, karena kereta sudah penuh sesak. Di dalam kereta sudah terisi oleh penumpang yang naik dari stasiun sebelumnya. Sudah tidak ada lagi bangku yang kosong. Akhirnya para penumpang berdiri atau duduk lesehan di lorong kereta. Tak terkecuali aku.

Pada awalnya aku sempat duduk lesehan, namun akhirnya aku memilih berdiri sepanjang perjalanan karena selalu saja ada pedagang atau sesama penumpang yang berlalu lalang. Aku tidak begitu suka dilangkahi orang. Karena berdiri, praktis aku terjaga sepanjang malam. Karena tidak ada kerjaan dan tidak memungkinkan untuk melihat pemandangan di luar, jadi aku ngeliatin orang orang yang ada di dalam kereta. Di bagian belakang gerbong yang paling menarik perhatian adalah sekelompok orang yang menggunakan baju takwa dan ada salah satu yang menggunakan surban putih yang sepertinya kyai nya. Sepanjang malam mereka membaca Al-Quran dan Al Hadits. Entah sampai pukul berapa. Kemudian yang menarik juga adalah sekelompok orang yang berada di bagian depan gerbong. Di liat sekilas, mereka memiliki perawakan yang sangar dan garang seperti preman pasar. Namun ternyata di pagi harinya, salah seorang dari mereka menggunakan kopiah dan mengeluarkan hape dan earphone. Kemudian dia menyalakan radio yang menyiarkan kuliah subuh. Ternyata orang tidak bisa dinilai dari penampilannya saja.

Akhirnya sekitar pukul 6 pagi aku dapat tempat duduk juga. Banyak orang yang turun di stasiun Jogja sehingga meninggalkan banyak bangku kosong. Setelah aku duduk, ada seorang ibu yang mengisi bangku sebelahku yang masih kosong. Iseng – iseng aku tanyain bakalan turun dimana, ternyata turun di Kediri. Trus aku tanya, kalau mau ke Malang naik apa ya dari Kediri. Ternyata disuruh ikut ibunya aja karena ibunya juga mau naik bus jurusan Malang atau kalau mau sendirian, disuruh naik becak aja ke arah Bhayangkari sekitar 5 ribu aja. Wah lumayan dapet petunjuk nih. Iseng iseng berhadiah pikirku. Hahaha…

Perjalanan Kediri – Malang (Bus Ekonomi)

Turun dari kereta aku coba petunjuk dari ibunya. Cari becak ke arah bhayangkari. Becak pertama minta 10 ribu untuk ke arah bhayangkari. Aku tawar minta 5 ribu tetep ga bisa. Akhirnya aku dioper ke tukang becak yang lain. Seorang bapak-bapak tua yang pendengarannya agak kurang. Begitu aku tawar, bapaknya langsung mengiyakan aja. Kemudian aku naik ke becaknya dengan perasaan kuatir, bener bapaknya ngerti ga nih. Ternyata kekuatiranku terbukti, bapaknya salah arah. Untungnya belum begitu jauh jadi bisa balik dengan cepat. Akhirnya bapaknya aku kasih ongkos 6 ribu aja. Kasian ngeliatnya soalnya. Sudah tua banget, tadi pas naik pengennya aku aja yang ngayuh dan bapaknya yang duduk di depan. Tapi berhubung aku ga tau jalan ya ga jadi.

Bhayangkari, sampai sekarang aku tidak tau mengapa daerah itu disebut begitu. Pada awalnya kupikir adalah daerah tentara atau ada rumah sakit bernama bhayangkari. Tapi yang ada cuma kantor polisi dan rumah sakit yang tidak bernama bhayangkari. Selain itu ada jalan yang sangat besar dan satu arah. Sepertinya ini adalah jalur utama untuk keluar kota karena banyak bis dan colt berbagai jurusan yang lewat sini. Namun bis jurusan Malang tidak lewat-lewat. Selama menunggu seperti biasa, aku ngeliatan orang-orang yang sama-sama menunggu.

Tidak berapa lama, pandanganku tertuju pada seorang anak kecil yang menangis. Biasanya orang akan iba bila ada anak kecil yang menangis, namun kalau ngeliat anak ini bakalan geregetan. Anak itu berpakaian bak rocker. Celana jins gembel, sabuk dan rantai besi tergantung di pinggang, plus telinga tindikan. Rocker kok cengeng.

Bis yang kutunggu datang juga setelah 45 menit. Tapi di dalam bis sudah penuh. Tidak ada tempat lagi untuk duduk. Terpaksa aku berdiri lagi. Walaupun bis sudah penuh, si kondektur dengan semena – mena terus saja memasukkan orang sehingga keadaan di dalam bis semakin sesak. Hampir tidak ada ruang untuk bergerak. Sudah gitu di depanku ada anak kecil rese banget. Ga tau apa kalo ini bis sudah sesak. Mau nempatin kepala aja susah. Eh ini anak dengan enaknya gerak-gerakin tangannya dari gendongan bapaknya. Berkali – kali hampir kena kepalaku. Mati-matian aku menghindarinya tapi susah soalnya kepalaku juga udah ga bisa gerak gara-gara bisnya penuh sesak. Dan coba tebak siapa anak ini…si rocker cengeng. Waduh kalo aku mentolo (jawa: tega), sudah aku cabut anting dari telinga anak ini. Namun tidak berapa lama aku bisa membalaskan dendamku. Tidak berapa lama, orang yang duduk di sebelahku turun sehingga kursinya kosong. Lalu aku tawarkan tempat itu kepada bapak yang menggendong si rocker. Begitu bapak itu duduk dan tertidur, aku kasih pantatku ke kepala si rocker yang sekarang ada di pangkuan si bapak. Wkwkwkwk… Bukan maksud hati juga sih. Berhubung bis semakin penuh dan aku terdesak ke arah bangku bapak tersebut (hehe…pembelaan diri) ya sekalian aja pelampiasan. Akhirnya anaknya tidak tahan dan nangis minta pindah ke ibunya yang berada di bangku seberang. Hahaha…

Perjalanan Kediri – Malang menempuh waktu 2,5 jam dan menempuh medan yang berkelok – kelok. Selama itu pula aku berdiri di dalam bis yang penuh sesak. Bahkan cidera lutut kiriku hampir saja kambuh karena kaki kiriku dipaksa menahan badan dalam posisi yang tidak tepat. Untung sakitnya tidak lama. Setelah turun dari bis dan digerak-gerakkan, kaki kiriku sudah bisa ditekuk normal lagi.

Begitu sampai di Malang, aku bisa tenang. Aku tidak perlu berdiri lagi karena angkutan di Malang semua tidak ada yang pake berdiri. Jadi tinggal duduk manis sudah sampe rumah. Akhirnya aku tiba di rumah sekitar pukul 5 sore.

Kesimpulan

Naik kereta ekonomi tidak seburuk yang dibayangkan. Walau tidak dapat tempat duduk namun tidak seperti cerita orang yang katanya naek ekonomi itu bahaya, banyak copetnya, ga ada lampunya. Namun semua itu tidak terbukti.

Ini perjalanan pulang paling murah yang pernah aku rasain. Perhitungannya adalah sebagai berikut :

tiket kereta

Rp

39000

Becak

Rp

5000

tiket bis

Rp

15000

angkot di Malang

Rp

5000

Total

Rp

64000


Namun perjalanannya adalah yang paling lama karena berangkat pukul setengah sembilan dari Bandung dan baru sampai di rumah pukul 5 sore keesokan harinya. Jadi aku menghabiskan 20,5 jam di jalan.


Actions

Information

Leave a comment